BATCH 6 UNTUNG JAWA

Lepas Tawa Di Untung Jawa

by Nurmaya

Pulau Untung Jawa merupakan bagian dari Kepulauan Seribu. Wilayah yang secara administratif masih termasuk dalam Provinsi DKI Jakarta, tetapi kenyataannya berbeda jauh dengan Kota Jakarta. Namun sekarang di pulau ini jalan sudah teraspal rapi, penginapan relatif banyak, makanan enakpun tidak sulit untuk didapat. Sinyal internet juga cukup kencang menghubungkan pulau ini dengan dunia di luar sana. Tak lama setelah sampai, persiapan untuk acara pertama segera dilakukan.

Kelas Instragram dipilih menjadi kegiatan masyarakat. Di kelas tersebut dijelaskan cara mudah menghasilkan dokumentasi menggunakan handphone, untuk kemudian diunggah ke media sosial sehingga lebih banyak orang yang mengetahui dan tertarik dengan Pulau Untung Jawa. Maklum, Pulau Untung Jawa adalah salah satu destinasi wisata di gugusan Kepulauan Seribu. Kurang dari dua puluh orang hadir dalam Kelas Instagram yang diselenggarakan di Pendopo RPTRA Amiterdam.

Keraguan sempat hadir di benak para relawan karena lupa mempertimbangkan bahwa hari itu Minggu sore. Bapak-bapak masih di laut. Para ibu masih sibuk menjaga tempat usaha. Akhir pekan memang harinya ramai pengunjung di pulau. Tapi keraguan itu salah. Mereka yang datang justru orang-orang yang memang antusias dengan sosial media. Handphone yang dimiliki langsung dikeluarkan untuk mencoba tips & trick yang sudah didapat di kelas.

Selain Kelas Instagram, ada juga Amazing Race bagi anak-anak pulau. Kegiatan masih tetap di RPTRA Amiterdam, tetapi kami memilih suasana outdoor untuk Amazing Race. Bermain dan bercanda sambil belajar, metode ini yang dipakai untuk mengenalkan nilai-nilai kesantunan kepada anak-anak.

  1. Pos pertama “Alas Ajaib”. Di pos ini anak-anak berpindah dari satu posisi ke lokasi yang dituju dengan bantuan alas koran. Mereka harus bekerja sama karena kaki tidak boleh menyentuh tanah.
  2. Pos kedua “Karet Berjalan”. Di pos ini mereka memindahkan karet gelang dengan bantuan sedotan pendek yang diletakkan di mulut. Ada yang menundukkan kepala, ada juga yang berjinjit. Semua dilakukan agar lebih dulu menyelesaikan sejumlah karet gelang yang disediakan.
  3. Pos ketiga “Susun Kata”. Anak-anak diberikan satu buah amplop berisi kumpulan kertas bertuliskan kata-kata yang jika disusun dengan baik akan menghasilkan kalimat.
  4. Pos terakhir “Polisi Maling”. Di sini mereka bergandengan tangan membentuk lingkaran besar. Lalu diselipkan tali berbentuk lingkaran untuk dipindahkan tanpa ada yang melepaskan genggaman tangan. Anak-anak meliuk-liukkan badan berusaha memindahkan tali secepat mungkin agar tidak tertangkap dan dikeluarkan dari barisan.

Sesuai dengan tema KIJP tahun ini, yaitu Anak Santun Itu Keren (ASIK), para relawan mencoba menghadirkan nilai-nilai tersebut di berbagai permainan yang ada. Antusias, kerja sama, semangat juang, sabar, jujur, bertanggung jawab, mengakui kekalahan, rendah hati, dan berbagai sikap santun lainnya dengan mudah mereka pelajari melalui permainan-permainan yang ada. Dengan adanya Amazing Race, anak-anak juga menjadi lebih akrab dengan kami sehingga memudahkan dalam kegiatan di hari kedua.

 

Hari Kedua : Hari Inspirasi

Hari inspirasi tiba. Kegiatan sekolah dimulai dengan upacara kemudian perkenalan dari para relawan. Flashmob pun memecah tawa ceria anak-anak. Lagu ‘Setinggi Langit dari Naura’ memanggil seluruh anak untuk menari, tentunya juga para relawan.

Kelas pertama diawali dengan memakai atribut mahkota kertas. Di mahkota tersebut, masing-masing anak menuliskan nama lalu memakainya di kepala. Berbagai cara ditempuh para relawan pengajar untuk menyampaikan materinya. Ada yang belajar di lapangan, ada yang tetap di bangku di dalam kelas, dan ada juga yang tetap di kelas tetapi duduk berkumpul di lantai. Perlengkapan para relawan juga unik, laptop, puzzle, hingga gambar berukuran besar.

by Nurmaya

Anak-anak antusias mendengarkan penjelasan dari para pengajar. Ada wajah-wajah baru yang menghiasi sekolah mereka. Mereka juga tertarik mencoba peralatan kerja yang dibawa. Di SDN Pulau Untung Jawa juga terdapat Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), walau begitu mereka masih mampu mengikuti kelas dengan cukup baik.

Tak lama, terdengar sayup-sayup isak tangis seseorang. Salah seorang relawan pengajar keluar dari kelasnya sambil berusaha menenangkan seorang anak yang menangis tersedu sambil memegangi kepalanya. Ada yang berkelahi. Diperlukan energi tak sedikit untuk melerai kedua anak tersebut, bahkan untuk meminta penjelasan. Di sinilah, praktek ‘santun’ dilaksanakan, hingga akhirnya meminta maaf. Yang menjadi catatan adalah kemampuan anak-anak meluapkan emosi. Sulitnya meminta maaf dan santun dalam bersikap, serta berbicara yang masih perlu ditingkatkan.

Kelas terakhir ditutup dengan menuliskan secara bebas tentang cita-cita mereka. Ada yang menggambar. Ada juga yang menceritakan yang akan dilakukan ketika cita-cita tercapai. Suasana kelas langsung hening. Anak-anak sibuk dengan kertas cita-cita mereka. “Nanti tolong ditunjukkan kepada orang tua ya, nak,” pesan pengajar kepada mereka.

 

 

Hari Ketiga : Perpisahan

Ada pertemuan, tentu akan ada perpisahan. Itulah hukum alam. Kami kembali datang ke sekolah untuk berpamitan. Berbagai macam pertanyaan dilontarkan oleh anak-anak. “Kapan ke sini lagi?” atau “Kok sebentar banget?” Dan kami hanya bisa memberi senyuman dengan jawaban, “Kalian ya yang gantian main ke Jakarta”. Bukan bermaksud apa, tapi kami ingin agar anak-anak itu juga bisa memiliki mimpi untuk melihat dunia di luar lingkungannya sendiri.

Seorang anak memberikan setangkai bunga mawar kepada salah satu relawan. Ia ingin menjadi dokter, walau sesungguhnya tak langsung diajar oleh relawan tersebut.

Orang bilang generasi sekarang minim kontribusi. Kata siapa? Dua belas relawan baik pengajar dan dokumentator berkumpul di Pulau Untung Jawa. Kami memang tidak berdiri tegap, mengangkat senjata, siap menghadang penjajah seperti yang nenek moyang kami lakukan demi negeri ini. Kami hanya bercerita pada anak-anak bangsa mengenai apa yang sehari-hari kami lakukan di dalam profesi kami. Dan ternyata cerita itu tertanam dalam benak mereka.

Kau tak pernah tahu ceritamu membangun mimpi mereka. Kau tak pernah tahu mereka mungkin akan menjadi orang-orang besar penerus bangsa. Maka, berceritalah. Karena masih banyak anak-anak di luar sana yang ingin mendengar ceritamu. Atau bahkan begitu ingin menjadi sepertimu.

Salam Matahari!

 

-dr. Silka Samanta, Pulau Untung Jawa Batch 6-