BATCH 6 PULAU TUNDA

Tunda Punya Cerita, Jangan Tunda Berbagi Baik

Perjalanan darat menuju Pulau Tunda, Banten kami tempuh selama 2,5 jam dari Jakarta. Setibanya di pelabuhan Karangantu, kami melanjutkan perjalanan laut selama 2 jam menggunakan perahu motor. Perlahan tapi pasti, perahu mengantarkan kami melalui sebuah perjalanan laut yang cukup menyenangkan. Semangat kami terpompa kembali, terlebih karena terkena hembusan angin laut yang cukup jarang kami rasakan disertai percikan air yang membuncah dan sesekali memercik di wajah. Suasana ini menemani bayangan kami dan impian-impian kami, menyegarkan pikiran dan memberi harapan atas apa yang akan kami lakukan di Pulau Tunda.

Perjalanan laut pun begitu singkat hingga tak terasa setelah hampir 2 jam berlayar. Samar-samar terdengar suara Marching Band. Rupanya dari pulau kecil yang tidak ada listrik itu  kemeriahan suara Marching Band berasal, untuk menyambut kami relawan KIJP Pulo Tunda. Luar biasa. Kami benar-benar dibuat gembira sekaligus sedikit haru, karena tidak terpikir sama sekali bahwa kedatangan kami memang pantas disambut dengan kemeriahan sebesar ini. Kegembiraan yang mereka tunjukkan, semakin membuat kami semangat, dan meninggikan niat kami untuk memberikan segala yang terbaik dari yang kami punya untuk masa depan mereka. Tatapan harapan, senyum bahagia, canda dan tawa mereka menghantarkan kedatangan kami di pulau tersebut. Melihat kebahagiaan mereka, semangat kami untuk menginspirasi semakin kuat dan ingin rasanya kami langsung masuk kelas dan bermain bersama mereka.

 

Cerita Kegiatan Anak

Tim relawan baru saja selesai makan siang dan istirahat sejenak. Sinar matahari yang sangat terik tak mereduksi semangat para relawan siang itu. Langkah kaki anak-anakpun demikian. Semua menuju Taman Wisata yang terletak persis di dermaga timur Pulau Tunda. Senyum lebar menghiasi, berusaha kalahkan senyum mentari. Kegiatan bermain bersama anak-anak dimulai pukul dua siang. Kakak-kakak sibuk mengatur anak-anak yang berjumlah hampir 100 orang. Menyanyikan beberapa lagu untuk memulai konsentrasi mereka, tepuk tomatpun dikenalkan sebagai pembuka, sebelum akhirnya membagi menjadi tiga kelompok besar. Kak Anand, Kak Rama, dan Kak Jainar kelompok pertama. Selanjutnya ada Kak Treza, Kak Ahdie, Kak Hesty di kelompok kedua. Serta Kak Tati, Kak Iffah dan Kak Putri untuk mengatur permainan di kelompok tiga. Tim dokumentator yang terdiri dari Kak Audi, Kak Fikri, Mas Ari serta Kak Nadia siap mengabadikan setiap momen di aula ini.

Permainan pun dimulai. Kami menyebutnya komunikata. Kak Anand sudah menyiapkan kalimat yang tentunya berisi empat kata ajaib.  Terima kasih, permisi, maaf, dan tolong. Keseruan mulai terlihat, saat kalimat yang dibisikkan tak dapat diulang dengan benar. Beberapa anak mulai menggunakan strategi agar menjadi pemenang. Selesai dengan permainan pertama, kami mulai memainkan permainan yang kedua. Namun, karena cuaca sangat panas, tim kami pindah mencari posisi yang sedikit terlindung dari terik matahari. Kali ini kami mencoba belajar tentang bagaimana membedakan sampah organik dan an-organik. Dengan aneka gambar yang ada anak-anak coba memilah. Untuk menambah semangat, mereka pun menyanyi tentang sampah. “Jika bertemu sampah, diambil… dibuang. Dibuangnya di mana?….di tong sampah.”

Selesai di permainan kedua, Kak Jainar membagikan balon. Anak-anak berbaris rapi dengan menempelkan balon diperutnya. Suara balon pecah terdengar. Beberapa membuat kegaduhan, tak mau mendengarkan. Anak-anak yang energinya super. Kakak-kakak relawan mengusap keringat dan mulai terlihat lelah, namun anak-anak tidak berkurang sedikitpun energinya. Setelah melewati rute yang dibuat berliku, mereka sampai di tengah aula. Mural untuk diwarnai telah menunggu. Kali ini suasana lebih tenang karena semua konsentrasi dengan krayonnya. Mural pun usai. Matahari semakin turun namun masih terasa teriknya. Sebelum kami tinggalkan aula taman wisata kami sempatkan berfoto bersama. Sebagian anak-anak masih merayu Kak Jainar untuk mendapatkan balon. Tertawa riang saat Kak Jainar memberikannya. Anak-anak yang selalu bergerak tak berhenti meski kita sudah bersiap tinggalkan aula.

 

Cerita Hari Inspirasi

Senin pagi, langit biru dan anak-anak sudah berbaris rapi di lapangan. Jarum jam baru menunjukkan jam 7 pagi, namun pasukan upacara sudah siap. Tanpa terkecuali. Lebih cepat 15 menit dari jadwal yang biasanya. Memang unik peserta upacara di SDN Pulo Tunda. Mengapa? Peserta upacara tidak hanya murid dari SDN Pulo Tunda, namun dari tingkat TK hingga SMP. Seragam kotak-kotak berwarna biru berada di sisi kanan. Mereka adalah tingkat TK. Sedangkan tingkat SMP ada di sisi kiri lapangan.

Bapak Syahroni selaku kepala sekolah, pagi ini menjadi pembina upacara. Meski listrik tak ada di pagi hari, namun di sekolah ada genset. Sehingga alunan musik lagu Kebangsaan yang diperdengarkan menambah semangat pagi ini. Pak Roni, panggilan bapak kepala sekolah mengucapkan rasa bangga dan berterima kasih atas kedatangan tim KIJP untuk yang kedua kalinya. Kamipun diminta untuk memperkenalkan diri. Kak Putri memimpin sesi ini. Tim yang terdiri dari 9 relawan pengajar dan 4 relawan dokumentator siap bersenang-senang dengan anak-anak dari SDN Pulo Tunda.

Semangat dan keceriaan pagi bertambah saat kami mengenalkan Salam Tomat. Waaaah seru sekali! Bapak dan Ibu guru pun turut serta. Salam yang mengandung makna dalam sekali. Di dalamnya ada kata ajaib, penuntun agar menjadi santun. Lalu kami bersama-sama bergerak. Ayun tangan dan kaki dalam tarian Hoki Poki. Adik-adik yang bersekolah TK pun ikut bergoyang. Bapak dan Ibu tak ketinggalan. Tularkan semangat pada semua murid-muridnya.

Pukul 08.00 WIB acara perkenalan pun usai. Kami bersiap untuk masuk ke kelas. Apa yang kami ceritakan di kelas? Profesi tentu menjadi awal perkenalan. Lalu kami menyisipkan pesan kesantunan. Anak Santun Itu Keren#ASIK menjadi misi kami. Polah anak-anak di tiap kelas tidaklah sama. Kak Ahdie merasakan harus bekerja ekstra saat harus masuk kelas besar. Kak Putri membius anak-anak di kelas dengan sulapnya. Sains yang dipraktikkan Kak Putri membuat mereka takjub.

Saat istirahat tiba, Pak Hendra membawakan kami sepiring bakwan yang masih hangat. Menggoda kami untuk segera menikmatinya. Kondisi kami mulai letih karena cuaca cukup panas dan anak-anak antusias. Beberapa anak bahkan harus diarahkan karena super aktif. Saat menikmati gorengan, di ruang guru terdengar petikan gitar. Lagu tahun 70-an dinyanyikan oleh beberapa guru di ruang tersebut. Kak Treza, Kak Nadia memperhatikan dan akhirnya kami semua bergabung. Mas Ari pun sang fotographer tak mau ketinggalan abadikan momen indah ini. Ya, kami menyanyi bersama. Pak Hendra mainkan gitar, lalu Kemesraan pun sontak membuat kami menjadi hanyut dalam kebersamaan.

Anak-anak kelas 1 dan 2 harus segera pulang, jam sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB. Kak Anand dan Kak Treza memimpin kedua kelas untuk mulai menggantungkan cita-cita. Kak Jaenar serta Kak Ifah hadir di hadapan anak-anak SMP. Mereka pun ingin tahu, kakak-kakak KIJP ini punya cerita apa untuk mereka. Satu jam kemudian anak-anak dari seluruh kelas mulai berbaris di lapangan. Program mengajar sehari di SDN Pulo Tunda telah selesai.

Sebelum menutup rangkaian kegiatan, wakil dari Kelas VI membaca Ikrar Kesantunan yang diikuti oleh seluruh anak-anak. Matahari semakin tinggi, teriknya bertambah. Kami bergegas tinggalkan sekolah. Banyak yang kami bawa pulang. Tidak saja semangat, namun berbagai inspirasi hadir di benak kami.

Pulau Tunda memang selalu punya cerita. Mendapati anak-anak di sekolah ini dengan segala keterbatasan tak membuatnya menjadi hilang impian. Cita dan harapan itu terus ada, membumbung tinggi di langit biru.

 

Cerita Kegiatan Masyarakat dan Membaca

Setelah menginspirasi di sekolah, kegiatan kami belum selesai. Hari Minggu kami habiskan bermain bersama anak-anak. Nah, untuk kegiatan bersama ibu-ibu kami jadwalkan hari ini pukul 14.00 WIB di Aula Wisata. Rasa lelah menghampiri, tapi beberapa ibu-ibu mulai berjalan ke arah aula. Untuk kegiatan masyarakat, dua relawan yaitu Kak Tati dan Kak Iffah berbincang seputar diabetes dan darah tinggi. Sementara relawan lain menuju rumah baca untuk merapikan dan membacakan banyak cerita dari buku baru untuk anak-anak pulau.

by Audi R

Kegiatan masyarakat dibuka dengan penyuluhan dengan tema hipertensi pada wanita hamil. Tak disangka, ibu-ibu Pulau Tunda sangat aktif bercerita perihal penyakit ini serta kasus yang pernah terjadi. Gejala serta resiko yang bisa terjadi. Peserta menyimak dengan antusias. Selama penyuluhan berlangsung, peserta terus bertambah. Kami memberikan apresiasi yang sangat tinggi untuk ibu-ibu ini. Saat terik, saat waktunya beristirahat, mereka mau datang untuk berbagi cerita. Kemudian dilanjutkan sesi penyuluhan diabetes atau kencing manis. Gejala-gejala ada yang mereka alami. Ada yang menarik, saat membagikan cerita bahwa di Pulau Tunda mereka punya segalanya. Air garam yang melimpah. Dan mereka tak pernah menikmatinya. Enggan menuju pantai meski sekadar berendam. Enggan jalan kaki keliling pulau terkena sinar matahari. Hal sederhana yang mereka dapat lakukan, yang dapat memperbaiki kesehatan mereka. Kelapa yang berlimpah pun mereka tak mengerti akan manfaatnya. Jadi timbul keinginan untuk membawa ibu-ibu ini ke pantai dan bermain air jika suatu hari kembali ke sini.

by Nadia Nurul

Lalu, bagaimana dengan cerita di Rumah Baca? Awalnya anak-anak menghampiri kami hanya untuk menyapa ataupun sekedar lewat untuk bermain di dermaga. Tapi lama-kelamaan semakin banyak anak yang menghampiri kami sedang memegang buku. Kegiatan literasipun tanpa kami sadari sudah dimulai. Tak lama kemudian teman-teman relawan yang lain pun berdatangan. Anak-anak kami minta untuk menumpuk 5-10 buku, kemudian menjajarkannya di lantai. Mereka sangat antusias, bahkan berlomba-lomba untuk menjadi penyusun buku tercepat. Yang sudah selesai menumpuk buku, menyerahkannya kepada kami dan Bang Ucen (salah seorang penggiat taman baca di Pulo Tunda) untuk menyusunnya di rak buku. Beberapa teman relawan mulai membuat kelompok kecil dengan anak-anak yang semakin banyak datang ke taman baca. Kemudian membacakan buku yang dipilih sendiri oleh anak, mendongeng serta bercerita. Tak jarang anak-anak bertanya mengenai kalimat atau kata yang tidak mereka pahami.

Setiap anak yang baru datang pasti bertanya, “Kak, mana kak buku barunya?” atau “Kak, bukunya boleh dibawa ke rumah ya? Nanti dikembalikan lagi.” Saya hanya dapat tersenyum haru namum bahagia melihat antusias anak-anak yang luar biasa pada kegiatan literasi. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB. Itu artinya kegiatan sudah harus berakhir. Orang tua yang sudah selesai kegiatan masyarakat mulai menjemput sang anak. Padahal buku belum selesai kami bacakan kepada mereka. Dengan berat hati, kami harus segera meninggalkan taman baca. Begitulah waktu. Kadang dirasa tak berkompromi kala diisi dengan kegiatan positif.

 

-Hesty, Putri, dan Tati Rahmawati, Tunda Batch 6-

Cerita KIJP di Pulau Tunda, Batch 6 bisa dilihat di sini.