BATCH 6 PULAU SEBIRA

Cerita di Sebira, Kepulauan Seribu

by Hairil Saleh

Tentang Pulau

Sebira atau dikenal juga dengan nama Sabira berada di bagian paling utara Kepulauan Seribu. Jarak 126 kilometer dari Pantai Utara Jakarta membuat waktu tempuh yang diperlukan untuk mencapai Sebira hingga 8 jam. Pulau yang diberi sebutan Noord Wachter (Penjaga Utara) pada zaman Belanda ini memiliki luas hanya 9,5 hektar. Sementara populasinya sekitar 500 jiwa dengan 90 persen penduduknya bersuku Bugis. Terdapat mercusuar setinggi 60 meter yang menjadi ikon pulau ini. Mercusuar tersebut dibangun atas perintah Raja ZM Willem III pada tahun 1869.

Cerita itupun diabadikan dalam prasasti yang dipasang tepat di atas pintu mercusuar. Mercusuar biasanya ramai dikunjungi anak-anak Sebira pada sore hari, sebab terdapat akses wifi di sana. Wifi menjadi bagian penting komunikasi di pulau ini. Selain mercusuar, ada beberapa spot wifi yang bisa dimanfaatkan warga.

by Leo Nugraha

Sebelumnya, komunikasi sulit dilakukan karena tak adanya BTS di Sebira. Akses listrik 24 jam bahkan baru tahun ini didapat. Sebelumnya, akses listrik hanya dari pukul 16.00-07.00 WIB, itupun menggunakan bantuan generator. Tak jauh dari Mercusuar juga terdapat tempat unik, sebuah pohon tumbuh sendirian di tengah laut. Masyarakat Sebira biasa menyebutnya ‘Pohon Galau’. Di sudut lain pulau ini, terdapat deretan tiang beton berjarak yang biasa digunakan untuk menjemur ikan. Lingkungannya yang dikelilingi laut menjadikan ikan sebagai komoditas utama pulau ini. Yang paling terkenal adalah ikan selar dengan berbagai macam olahannya, seperti kerupuk dan abon. Berbagai olahan itupun mulai dijual hingga ke luar pulau.

Untuk menjaga pulau mereka dari abrasi, masyarakat di sana membangun tanggul yang dibuat mengelilingi pulau. Di beberapa sisi, mereka menghalau abrasi dengan menanam mangrove. Menariknya lagi, sejak 2 tahun terakhir, Sebira memiliki penangkaran penyu sisik hasil swadaya masyarakat di sana. Penangkaran penyu itu dibuat sebagai bentuk kepedulian dan pelestarian satwa dilindungi yang ada di Sebira. Sebelumnya, penyu sisik banyak ditangkap untuk dijual atau bahkan dikonsumsi.

 

Kegiatan Relawan

by Hairil Saleh

Jarak tempuh yang memakan waktu hingga delapan jam memberi para relawan alasan untuk berangkat satu hari lebih cepat dari jadwal yang ada. Tujuannya tentu supaya lebih maksimal memberikan manfaat. Apalagi belum ada kapal transportasi Dinas Perhubungan yang melayani rute ke Sebira. Sehingga kami harus menggunakan kapal nelayan melalui dermaga pelelangan ikan. Niat baik itupun disambut masyarakat Sebira. Tabuhan rebana, senyum ramah, lambaian tangan dan sapaan hangat menyambut tapak kaki pertama kami di dermaga. Tak hanya itu, merekapun langsung sigap membantu membawa barang-barang kami.

Penyambutan yang membuat haru di dermaga bahkan belum berakhir, masih ada tari-tarian yang dibawakan anak-anak sebagai salam perkenalan masyarakat pulau Sebira pada kami. Seperti tujuan awal keberangkatan kami, setelah cukup beristirahat, kami langsung menuju masjid Nurul Bahri, masjid satu-satunya di pulau Sebira untuk mulai memberi manfaat. Menurut salah seorang warga, masjid itu baru selesai direnovasi sekitar satu bulan lalu. Sebagai sarana ibadah, masjid ini sudah cukup memadai dan memiliki fasilitas yang lengkap. Maka kami hanya bergotong royong untuk membersihkan masjid sebelum waktu Maghrib tiba.

Esoknya, kegiatan kami dimulai lebih awal. Untuk semakin mendekatkan diri dengan masyarakat Sebira, kami melakukan senam bersama yang dipimpin oleh Ibu Sahara, istri kepala sekolah sekaligus kepala Puskesmas di Sebira dan Kak Willi, salah satu relawan yang berprofesi sebagai penari. Siang harinya kegiatan dilanjutkan di lingkungan sekolah SDN Pulau Harapan 02 Pagi.

Ada tiga kegiatan yang dilakukan, pertama kami beri nama Menjelajah Dunia dengan Buku. Kami mengubah perpustakaan yang ada menjadi tempat yang menarik untuk anak-anak membaca. Kami juga memperbarui koleksi buku di sana. Buku-buku tersebut kami dapat dari hasil membuka donasi sebelum keberangkatan kami. Karena kami percaya, minat baca hanya akan terangsang jika adanya koleksi bacaan yang menarik. Kedua, kegiatan mewarnai dan menghias gembira yang dilakukan bersama anak-anak tingkat SD. Nantinya, hasil prakarya anak-anak itu akan menjadi bagian dari hiasan baru di perustakaan. Ketiga, kegiatan di Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Pada kegiatan ini, dua relawan KIJP yang berprofesi sebagai Dokter Umum dan Perawat melakukan sharing session tentang pertolongan pertama serat penanganan luka terhadap sejumlah Dokter Kecil SDN Pulau Harapan 02 Pagi. Sharing session kesehatan reproduksi juga dilakukan bersama perwakilan siswi SMP di sana.

Hari Inspirasi
Hujan deras mengguyur di Hari Inspirasi, tapi hal itu tidak menyurutkan siswa-siswi untuk datang ke sekolah tepat waktu. Lima wahana yang disiapkan 14 relawan pengajar pun sudah siap menyambut mereka. Sistem wahana dan moving class dipilih untuk memberi gaya belajar yang lebih interaktif. Di masing-masing wahana ini, materi yang diberikan akan disesuaikan dengan kebutuhan siswa-siswi.

Lima wahana tersebut antara lain:
1. Wahana Aku dan Teknologi
Di wahana ini, anak-anak diperkenalkan dengan asiknya belajar sains dengan berbagai macam alat peraga. Untuk siswa SMP, materi tentang penggunaan teknologi dan media sosial yang bertanggung jawab juga diberikan. Sebab, beberapa guru sempat mengeluhkan keberadaan wifi di Sebira menurunkan nilai siswa di sekolah. Bahkan sempat digunakan untuk hal yang negatif.

2. Wahana Aku dan Budaya
Di sini, anak-anak diperkenalkan dengan profesi Desainer Grafis, Jurnalis dan Penari. Di wahana yang juga dikenal dengan wahana Aku dan Kreasiku ini, anak-anak yang datang ke kelas dibagi untuk ikut menari, mendesain poster, juga belajar meliput kegiatan. Dengan adanya kelas ini, anak-anak diharapkan bisa menemukan potensi dan kreatifitas yang ada di dalam diri mereka.

3. Wahana Aku Anak Sehat
Di wahana ini, anak-anak dikenalkan dengan profesi-profesi yang berkaitan dengan kesehatan. Selain dokter dan perawat yang identik dengan rumah sakit, ada pula bagian administrasi yang mengerjakan manajemen rumah sakit. Penyampaian materi pun dilakukan dengan sistem langsung memperagakannya. Sehingga anak-anak bisa merasakan langsung pekerjaan para relawan.

4. Wahana Aku dan Pulauku
Di wahana ini terdapat tiga relawan yang berprofesi sebagai Pustakawati, Brand Manager dan Markom. Wahana ini bertujuan untuk mengenalkan potensi alam yang ada di Sebira, termasuk bagaimana anak-anak Sebira harus bangga menjadi anak pulau dan menjadi Duta bagi Pulaunya. Selain itu, anak-anak Sebira juga harus mulai cinta buku dan membaca. Karena dengan buku mereka bisa menjelajah dunia kemana saja dan menjadi pribadi yang pintar dan juga santun, sesuai dengan Motto KIJP tahun ini #AnakSantunItuKeren.

5. Wahana Aku dan Masyarakat
Wahana ini memberikan pemahaman anak-anak tentang peraturan yang menjadi poin penting dalam hidup bermasyarakat. Materinya dikemas dengan beragam permainan dan peraga. Selain itu, wahana ini juga mengenalkan tiga profesi yang saling terkait dengan peraturan dan hidup bermasyarakat, yakni Paralegal, CSR dan Project Energy Executive di perusahaan Cargo. Melalui lima wahana ini, para relawan berharap wawasan anak-anak Sebira semakin terbuka dan mampu menggali potensi diri mereka untuk manfaat yang lebih besar di masa depan.

by Ratna Damayanti

Ada beberapa pesan yang telah dikumpulkan oleh para relawan Sebira untuk kegiatan Batch 7 di pulau paling utara dari Kepulauan Seribu ini:
1. Perlunya anak-anak dibukakan pengetahuan tentang bagaimana menggunakan internet dengan baik dan bijak.
2. Mendekati masyarakat mengenai program internet baik bagi orang tua murid, bahwa sebagai orang tua juga harus aware dengan kebiasaan internet anak mereka.
3. Perlunya dibukakan wawasan anak-anak tentang potensi mereka yang lain (selain seni yang sudah sangat baik) sehingga anak-anak dapat lebih kreatif dan terbuka wawasannya.
4. Keep in touch, untuk tahu kondisi terbaru pulau demi merancang kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan pulau.
5. Lebih banyak kegiatan bersama para guru dan masyarakat untuk mempererat ikatan dengan KIJP. Sehingga apabila antar relawan, masyarakat dan guru memiliki ikatan yang kuat akan mudah untuk memberikan input program yang positif.

 

-Inge Klara Safitri, Sebira Batch 6-