BATCH 6 PULAU PRAMUKA

Berlayar dan Belajar Bersama di Pramuka

“It’s not the destination, it’s the journey.”―Ralph Waldo Emerson

Kutipan ini bisa kita cari di Google dengan mudah. Memang terdengar klise. Tetapi, untuk benar-benar memahaminya, kita tetap harus merasakan langsung. Pengalaman nyata tentu saja tak tersedia di kolom pencarian dunia maya.

Inilah yang dirasakan para relawan ketika pergi ke Pulau Pramuka bersama 17 relawan Komunitas Inspirasi Jelajah Pulau (KIJP) yaitu Okie, Evin, Reni alias Aie, Asta, Anne, Gandes, Intania alias Tane, Iyan, Wahyu, Alfi, Ayu, Andrianto alias Andrew, Rosalia alias Ocha, Anggraini alias Anggi, Ari alias Etet, Hanif, dan Ilham. Sayangnya, satu inspirator harus membatalkan keberangkatan pada hari-H karena ada hal lain yang tak bisa ditinggalkan.

by Ari Ardhiansyah

Kami mendapat penempatan pulau yang menjadi pusat administrasi dan pemerintahan Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu. Wajar saja jika fasilitas fisik di sana relatif memadai, termasuk urusan sinyal internet. Pulau ini juga kerap dijadikan destinasi wisata. Lokasi snorkeling atau titik terbaik melihat sunrise dan sunset sudah biasa jadi incaran. Namun kali ini, entah kenapa, hal itu tidaklah mendominasi pikiran.

Sebelum benar-benar tiba di pulau, untaian cerita antar relawan justru telah dimulai. Bertemu di Training for Trainers (TFT), lalu lanjut ngobrol ini-itu di grup WhatsApp. Sudah pasti jadi ikut kebanjiran notifikasi, tetapi cara ini cukup jitu sebagai ‘pemanasan’. Sepakat dengan ucapan Bang Etet, “Tak perlu menunggu sesi pertemuan untuk bisa saling berkenalan.”

Namun, percakapan di dunia maya haruslah diimbangi dengan pertemuan-pertemuan nyata. Supaya persiapan semakin matang, beberapa dari kami pun bertemu kembali. Menyiapkan ini-itu. Mengenai kegiatan di kelas, kami menerapkan konsep moving class. Sedangkan kegiatan Sekolah Masyarakat Lingkungan (SML), kami mengadakan Kelas Public Speaking, Kelas Instagram, dan Permainan Asyik. Ya bagaimanapun, perjalanan ini nantinya bukan untuk kami semata-mata, melainkan adik-adik SD dan masyarakat Pulau Pramuka.

 

Belajar bersama

by Hanif Mubarok

Banyak hal menyenangkan yang didapatkan dalam berkegiatan di Pulau Pramuka ini. Ternyata, Pulau Pramuka menyimpan banyak cerita, tak lagi-lagi melulu soal tempat wisata. Penduduk setempat lebih sering menggunakan bahasa Bugis Melayu, bukan bahasa Betawi.

Ketika mengisi kegiatan SML bersama anak-anak kelas SMA, kamipun tahu bahwa remaja Pramuka sangat antusias belajar dunia fotografi dan penulisan kreatif. Sebagian lainnya, ingin mengetahui ilmu public speaking supaya kelak bisa menjadi pemandu wisata. Sebagian dari mereka berkeinginan untuk mempromosikan tempat tinggalnya dengan lebih baik.

Sedangkan pada proses Kegiatan Belajar Mengajar, kami pun ikut belajar dari murid SDN Panggang 02. Kok bisa? Berkat kondisi kelas dan karakteristik anak-anak yang langsung dihadapi pada hari H, kami jadi belajar improvisasi. Kami ikut belajar sabar dan kembali sadar bahwa menjadi guru sehari tidaklah mudah. Sekali lagi. Tidak mudah.

Di sekolah, ada sebagian relawan memanfatkan dua jam pelajaran untuk bertemu dengan para guru. Menurut informasi dari Kak Okie selaku PIC Pulau, tim guru membutuhkan sesi diskusi mengenai tips dan trik menulis karena mereka sedang menyiapkan buku. Dalam kegiatan ini, tidak ada yang merasa menggurui karena pada intinya adalah saling berbagi cerita.

Oh, iya, dalam kelompok, kami sangat menghargai tim KIJP yang mengusung tema “Anak Santun itu Keren (ASIK)”. Tema ini sangat relevan dengan kondisi yang kami hadapi di Pulau Pramuka. Bahkan, perihal santun juga perlu diterapkan oleh para relawan kepada masyarakat pulau atau bahkan antar-relawan. Kata “santun” jadi pengingat bagi kami semua selama perjalanan.

by Aloysius Hermawan
by Ari Ardhiansyah

Tak kalah penting, proses belajar juga terasa antar-relawan, lho. Tanpa disadari, proses ini sebenarnya dirasakan sejak awal mula pertemuan. Bayangkan saja, profesi kami sangatlah berbeda-beda. Ada yang sebagai investment analyst, petugas protokoler Polri, fasilitator, public speaker, change management, arsitek, banker, engineering pada power plant, corporate lawyer, dosen sekaligus peneliti, copywriter, finance, quality assurance water, apoteker, dan perawat. Saya jadi ikut belajar tentang tugas-tugas relawan lainnya. Ditambah lagi, ada profesi yang tidak cukup familier.

Saat sesi evaluasi kelompok setelah mengajar pun kami kembali saling belajar. Tiap inspirator memiliki jurus jitu dan improvisasi maha ajaib saat menghadapi anak-anak di kelas. Mulai dari jurus tepuk-tepuk hingga lomba tidur. Seru, kan?

Berlayar ke Pramuka benar-benar menuai cerita yang tak biasa berkat teman-teman relawan KIJP. Kami berlayar bersama sekaligus belajar bersama. Kami yang terinspirasi dan banyak belajar dari mereka. Terima kasih atas tuaian cerita yang penuh rasa, Pramuka.

 

-Gandes, Pramuka Batch 6-