BATCH 6 PULAU PAYUNG

Senyum di Balik Payung Mungil

Pertemuan Pertama

Sebelumnya perkenalkan relawan Pulau Payung, kami bersembilan, relawan pengajar ada Kak Alge, Kak Tati, Kak Yudi, Kak Sulis, dan Kak Raras. Sedangkan relawan dokumentator ada Kak Jojo, Kak Adit, dan Kak Didit. Ditambah satu lagi, Kakak spesial dari media Beritagarid bernama Kak Afril. Walaupun tim kami ada yang baru bertemu di hari H, tetapi kami sudah mulai akrab dari awal pertemuan saat pemberangkatan. Tim paling heboh di seluruh penjuru perkapalan!

Pagi itu kami berkumpul di Marina Ancol Dermaga 22. Pemberangkatan diawali sambutan dari Kapten Sao dan Sudindik Kepulauan Seribu. Kemudian dilanjutkan foto dan berdoa bersama. Kapal pun siap diberangkatkan. Kami berkemas menuju kapal, berbaur dengan kelompok lain, membuat suasana riang dan semakin bersemangat. Satu misi satu tujuan untuk menginspirasi anak-anak pulau.

Kapal terus berlayar menyusuri lautan Kepulauan Seribu. Langit dan laut sedang bagus-bagusnya hari itu. Mungkin Tuhan sengaja menugaskan mereka untuk mengiringi perjalanan kami, para relawan untuk berlayar. Kapal berlabuh di dermaga satu ke dermaga lainnya, menurunkan satu per satu kelompok per pulau. Hingga 3 jam berlalu, kapal pun menepi. Tibalah kami 8 relawan KIJP dengan latar belakang profesi yang berbeda dan seorang wartawan dari media Beritagarid menginjakkan kaki di sebuah pulau teduh bernama, Pulau Payung.

Dari kejauhan terlihat segerombolan anak-anak melambaikan tangan. Seolah-olah mereka tahu siapa yang segera datang meski terlihat dari jauh. Mereka pun berhamburan berlari menuju ke arah kami sambil tersenyum-senyum. Seolah mereka sudah menunggu kedatangan kami. Seperti itulah cara mereka menyambut dan memberikan sapaan hangat selamat datang untuk kami. Tangan-tangan kecil itu segera merangkul tangan kami dan membantu membawakan barang-barang bawaan kami. Ah, hati siapa yang tak luluh atas perlakuan seperti ini? Siang itu adalah momen pertama yang mengawali kegiatan kami berikutnya.

***

Bola-Bola Cokelat

Usai beristirahat sejenak dan briefing untuk mempersiapkan perlengkapan kegiatan, kami membagi tugas bersama. Beberapa dari kami menemui Bu Siti Rohmah selaku RT Pulau Payung dan warga guna sosialisasi kegiatan selama berada di pulau. Sedangkan beberapa relawan yang lainnya bersiap perlengkapan dan materi untuk kegiatan sore itu. Semua persiapan lancar. Terlihat anak-anak Pulau Payung sudah membuntuti kami. Sepertinya mereka sudah tak sabar untuk ‘bermain’ bersama kami. Ibu-ibu yang sedang bersantai-santai di warung pun menyambut baik rencana kami. Bahkan saat kami memberitahukan jadwal kegiatan mereka begitu antusias.

by Harditya Pragola

 

Sore pertama di Pulau Payung, diawali dengan mengisi kegiatan untuk warga, khususnya para ibu. Jika tahun lalu saat Batch 5, relawan KIJP Pulau Payung membagikan skill untuk mengolah limbah kain dan baju bekas, di kesempatan ini kami membuka kelas masak. Menu yang disajikan cukup sederhana dan mudah dibuat. Mungkin ini hal baru untuk mereka. Ya, membuat kue bola-bola cokelat dengan bahan-bahan yang mudah ditemukan di pulau. Kelas masak dipandu oleh Kak Tati, salah satu relawan kami yang jago masak. Bahkan, rela begadang demi membawakan bekal kue untuk kami saat perjalanan ke pulau lho! Sungguh luar biasa.

Ibu-ibu sudah berkumpul di dekat warung tepi pantai. Sesekali mereka mengintip kami yang sedang berbenah meja menyiapkan alat dan bahan untuk eksekusi Kelas Masak. Benar saja, ibu-ibu langsung mendatangi kami dan duduk di posisi masing-masing. Mereka seakan penasaran dan ingin tahu apa saja yang akan mereka pelajari. Kak Tati membuka Kelas Masak, memperkenalkan diri, lalu menjelaskan menu dan alat bahan apa saja yang diperlukan. Terlihat ibu-ibu begitu tertarik. Bahkan ada yang datang terlambat dan lari karena takut ketinggalan.

Kak Tati pun memulai dengan mempraktikkan serta memberi pengarahan apa saja yang harus dilakukan terlebih dahulu. Langkah pertama adalah meremuk biskuit sampai halus. Terlihat ibu-ibu meremuk biskuit dengan penuh tenaga, mungkin karena terlalu bersemangat atau memang karena belum dikasih uang belanja dari suaminya jadi hatinya kesal. Jadi meremuk biskuit adalah momen tepat untuk mencurahkan segalanya. Hahaha. Terbayang ‘kan betapa serunya remuk-meremukkan biskuit ini? Bahkan ada yang nambah-nambah biskuit terus lho saking semangatnya.

Semua instruksi dari Kak Tati diperhatikan baik-baik oleh para ibu. Telihat dari wajah mereka yang antusias menyimak. Beberapa bapak juga tidak mau kalah, mereka penasaran dengan kue yang sedang dibuat sembari memotret para ibu yang sedang mencampurkan bahan kue. Ayo Ibu-Ibu semangat ya!

 

Di sisi lain, anak-anak yang sejak awal sudah membuntuti kami, bermain bersama di pinggiran laut dekat perahu-perahu kecil bersandar. Mereka lari-lari dengan hebohnya tidak mau ketinggalan satu momen pun keseruan bersama beberapa dari kami. Ada beberapa hal santai untuk mengisi hari kami, seperti bermain lompat karet, bernyanyi dan menggoyangkan tubuh mengikuti perintah dari Kak Sulis. Kami bebas berekspresi, bebas untuk bahagia bersama. Ya, sejatinya kami bahagia bisa bertemu anak-anak Pulau Payung yang luar biasa aktifnya.

Tibalah di penghujung sore, kami seluruh relawan mengakhiri kegiatan di hari pertama dengan berfoto bersama. Kelas Masak juga usai, ibu-ibu dengan girangnya membawa pulang kue bola-bola coklat hasil karya sendiri. Bahkan ada ibu-ibu yang nyeletuk, “Nanti pas lebaran kuenya sama semua, bola-bola cokelat!” Disahut tawa riang ibu-ibu yang lain. Suasana sore itu begitu akrab. Namun, harus kami akhiri karena masih harus melakukan persiapan untuk esok harinya, yaitu Hari Inspirasi. Anak-anak pun seakan tak mau lepas dari kami. Mereka tetap membuntuti kami! Ah, anak-anak itu!

 

***

Hari Inspirasi

Senin, 23 Oktober 2017 pukul 06.15 WI, para relawan sedang bersiap-siap menuju sekolah untuk mengikuti upacara hari Senin sebelum melakukan kegiatan Inspirasi. Belum selesai kami bersiap, teras rumah sudah ramai kedatangan murid-murid. Sepertinya mereka sudah tidak sabar bertemu dan belajar bersama dengan kami. Mereka sudah mandi dan berseragam rapi lho! Kami pun kalah rapi.

Jarak tempat penginapan kami dengan sekolah pun sangat dekat. Hanya beda tiga atau empat rumah saja. Untuk sampai ke sekolah, kami hanya cukup berjalan kaki. Sesampainya di sekolah, kami disambut Bapak-Ibu guru. Pak Muslim, selaku Kepala Sekolah pun menyalami kami, dilanjutkan Bapak Ibu guru. Perjuangan guru-guru di Payung ini sangat luar biasa dan berdedikasi tinggi lho! Mereka rela menyeberang dari pulau lain setiap harinya untuk mendidik anak-anak Pulau Payung. Apapun cuacanya mereka tetap berangkat ke Pulau Payung dengan perahu kecil.

Kegiatan pagi ini diawali upacara bendera. Kami baris di halaman sekolah. Hanya ada 2 barisan, barisan guru dan barisan anak-anak. Ada yang unik di upacara kali ini. Apa itu? Jangan pernah bayangkan kita akan menemui barisan anak-anak yang berjubel-jubel di lapangan! Barisan anak-anak hanya satu baris. Benar-benar satu baris. Kami hanya menemukan 16 anak, 1 anak izin tidak masuk sekolah. Ya, jumlah murid di Payung dari kelas 1 sampai 6 hanya sekitar jumlah total 17 anak. Betapa upacara penuh khidmat. Kami bersama-sama menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya saat pengibaran bendera. Begitu pula saat menyanyikan lagu-lagu lainnya saat upacara. Semua dilakukan bersama-sama oleh seluruh peserta upacara yang hadir. Upacara pun berjalan lancar diakhiri Bapak Muslim menyalami kami, seluruh peserta upacara satu per satu.

Kegiatan selanjutnya, perkenalan KIJP. Setelah kami memperkenalkan diri satu per satu, sebagai penyemangat kegiatan, kami mengajak murid-murid untuk melakukan senam bersama. Ya, senam “Baby Shark” yang sedang ngetrend akhir-akhir ini. Senam dipandu oleh Kak Jojo. Ternyata cara itu berhasil untuk menaikan semangat mereka. Usai senam, kami bertambah bugar dan pemanasan yang menyenangkan ntuk mengawali kegiatan kami.

Kegiatan Inspirasipun berlangsung dengan jumlah empat relawan pengajar. Kami putuskan untuk membagi murid-murid ke dalam tiga rombel, kelas 1 dan 2 satu grup, kelas 3 dan 4 satu grup, kelas 5 dan 6 satu grup. Dengan sistem moving class, kami menamai kelas kami dengan wahana, ada wahana 1 sampai dengan 4. 

Kak Tati sebagai Sekretaris berada di Wahana 1, mengajarkan pentingnya komunikasi lewat puzzle dan worksheet seru yang dapat anak-anak selesaikan di kelas. Tak hanya itu, Kak Tati juga memperkenalkan beberapa ilmu pengetahuan dengan praktikum untuk lebih mudah memahaminya. Kak Raras yang berada di Wahana 2, memperkenalkan profesinya sebagai auditor lewat cerita detektif dan puzzle. Serta mengajarkan lagu ‘Ini Rumahku’ dengan gerakan yang membuat anak-anak bersemangat kembali.

Tak kalah seru, di Wahana 3 ada Kak Alge menyampaikan profesinya sebagai Business Development. Kak Alge memperkenalkan perjalanan sebuah barang untuk bisa kita nikmati atau kita gunakan. Selain itu, Kak Alge juga memperkenalkan arti bekerja sama dengan berbagai pihak dengan cerita-cerita serunya. Wahana keempat, ada Kak Yudi yang tak kalah kece sebagai Petroleum Engineer punya cara khusus untuk menyampaikan profesinya. Ya, dengan percobaan-percobaan sains sederhana yang begitu bermakna. Setiap anak bisa merasakan masing-masing wahana itu lho, seru ya!

Selain mengajar, tiap relawan juga membubuhkan hal-hal kecil sesuai tema #AnakSantunItuKeren seperti meminta maaf saat melakukan kesalahan, berterima kasih usai diberi atau ditolong, dan mengucapkan kata “tolong” saat meminta bantuan. Tema #AnakSantunItuKeren disingkat #ASIK ini merupakan kelanjutan dari tema Batch 5 #GenerasiJujur. Diharapkan sikap-sikap inilah yang akan menjadi dasar karakter anak-anak pulau sekaligus kami, sebagai para relawan.

Kegiatan belajar pun usai, kami akhiri dengan berfoto bersama seluruh murid, kepala sekolah dan para guru menggunakan kamera instax. Anak-anak merasa girang, karena foto mereka bisa langsung dicetak dan dikibas-kibaskan supaya makin terang gambarnya. Tak hanya anak-anak, Bapak-Ibu guru juga antusias melihat foto mereka langsung jadi.

 

***

Main-Main Sore

Jam 3 sore lagi-lagi anak-anak sudah menunggui kami di depan teras. Beginilah suasana di Pulau Payung. Anak-anak akan “glendotin” para relawan yang datang. Mereka begitu ramah dan cepat mengenal kami. Tak sungkan-sungkan mereka menyandarkan diri mereka, duduk di pangkuan, minta gendong, mainin rambut, dan bercerita bersama.

Sore itu, kami sudah ditunggu anak-anak dan ibu-ibu yang sudah tak sabar untuk mengikuti kegiatan MMS (Main-Main Sore). Satu hal yang membuat seru perlombaan ini selain melibatkan anak-anak juga melibatkan orang tua. Lomba terdiri dari baloon train, water transfer, dan tebak kata. Perlombaan pun berlangsung dengan semarak dan penuh keceriaan. Semua tertawa bersama-sama menikmati momen lucu dan keseruan bersama yang semoga tidak terlupakan. Anak-anak tak segan-segan basah-basahan. Bahkan ada yang berinisiatif menyeburkan kepala langsung ke laut. Saking semangatnya mengambil air. Ibu-ibu juga tak malu-malu untuk meramaikan perlombaan yang kami adakan. Dari perlombaan ini, kami ambil satu kelompok pemenang. Setelah diumumkan pemenang dan pembagian hadiah semuanya pulang ke rumah masing-masing karena hari sudah mulai gelap. Kami senang, ibu-ibu senang, anak-anak juga senang. Semua tampak senang.

by Aditya Wicaksono
by Aditya Wicaksono

 

Kami para relawan merasakan sebuah kelegaan, bahagia bercampur haru karena kegiatan kami telah terlalui dengan lancar sesuai dengan kehendak-Nya. Kegiatan dilanjutkan malam keakraban untuk para relawan sebelum akhirnya berpisah di hari berikutnya. Terima kasih kami sampaikan kepada seluruh warga Pulau Payung, Bapak Ibu Guru, serta anak-anak Pulau Payung. Terima kasih telah menyambut kami dengan sangat baik. Kemudian terima kasih kepada Kak Afril, selaku wartawan media Beritagarid yang telah meliput kegiatan kami di Pulau Payung sehingga cerita kami dapat dinikmati oleh pembaca luar. Jangan kapok ya main ke Payung!

Pesan yang ingin kami sampaikan untuk teman-teman di batch selanjutnya; para relawan harus membangun rasa kekeluargaan antar relawan, terus bersemangat dalam menginspirasi anak-anak di Pulau Payung. Tanamkan rasa percaya diri pada mereka karena semakin besar mereka nanti tantangan dalam kehidupan akan jauh lebih sulit. Jadilah sosok-sosok yang menginspirasi agar menjadi contoh yang baik bagi anak Pulau Payung, dan sayangilah anak-anak dan warga Pulau Payung karena mereka adalah bagian dari kita. Jangan lupa juga untuk kembali ke Payung walau tanpa menjadi relawan. Mereka akan senang jika kita kembali lagi mengunjungi mereka untuk bersilaturahmi. Kali saja ada jodoh positif di Pulau payung!

 

-Romadhiani Paraswati Arfita (Raras), Pulau Payung Batch 6-