“Tetaplah berkontribusi, sekecil apapun itu. Dan percayalah, keikutsertaan dalam kegiatan charity akan menyadarkan kita bahwa kita bisa memberikan manfaat bagi orang lain.”

Sebagai pelari terakhir, tentunya pria yang biasa dipanggil Nando ini memegang beban tanggung jawab yang lebih, karena ia menjadi penutup dari perjuangan timnya dengan menempuh rute Jakarta Utara. Nando yang sudah mulai berlari sejak Mei 2014 ini mengakui sedang merasa jenuh dengan rutinitas lari yang ia jalankan. “Saya merasa butuh melakukan aksi seperti Run For Charity ini untuk membuat lebih bersemangat, tidak seperti race yang biasanya hanya bertarget medali atau memperbaiki catatan waktu,” aku pria kelahiran Bandung ini.

Pernah menjadi relawan pengajar di Pulau Kelapa, selama menempuh jarak 25 km Nando justru merasa sangat senang dan bersemangat. “Waktu hampir tiga jam yang saya tempuh untuk berlari seperti terasa begitu cepat,” ucap Nando. Padahal, sebelum berlari Nando masih mengikuti rapat kerja kantor di Bandung. Belum lagi, ia mengendarai mobil sendiri menuju lokasi start point di Senayan. Sudah pasti kondisi badannya menjadi kurang fit. “Ketika tekanan darah saya diukur, tensinya mencapai 160/90. Hal ini diperkirakan karena saya kurang tidur selama 3 hari terakhir,” ucap Nando. Untunglah panitia masih mengijinkan Nando berlari dengan berpesan jangan terlalu dipaksakan. “Saya bersyukur masih diberi kesempatan, karena yang ada di benak saya hanyalah tanggung jawab moral kepada para donatur dan anak-anak di kepulauan yang terpilih mengikuti CAP,” tambahnya.

Saat Nando mulai berlari, hujan turun dan semakin deras. Baginya, berlari di bawah kondisi hujan memberi tantangan yang lebih berat, tetapi ia terus menanamkan sugesti pada dirinya sendiri bahwa ia mampu. Perjuangan menempuh 25 km kemudian semakin terasa berat ketika ia mengalami kram di betis kanan tepat di 1 km terakhir. Apalagi, jalanan cenderung sepi dan sudah tak ada marshall yang lewat. “Yang ada di bayangan saya pada saat itu hanyalah segerombol anak-anak CAP yang menunggu di garis finish, dan saya ingin melihat senyum mereka ketika saya sampai di garis itu. Syukurlah, saya bisa menyelesaikannya dengan catatan waktu yang cukup baik,” kenang Nando.

CAP sendiri menurut Nando dapat memberikan kesempatan kepada anak-anak di kepulauan untuk melihat lebih dekat beragam profesi dengan harapan anak-anak akan bersemangat mengejar cita-citanya. Jerih payahnya pun tak sia-sia, karena banyak pihak yang mendukung para KIJP Runner dalam pengumpulan donasi. “Para panitia CAP sangat membantu dalam mempublikasikan materi donasi. Hingga akhirnya dana yang terkumpul bisa melebihi target. Terima kasih,” ujar Nando menutup perbincangan.