Novel Fernando, 33, Auditor

ARTIKEL

“Tetaplah berkontribusi, sekecil apapun itu. Dan percayalah, keikutsertaan dalam kegiatan charity akan menyadarkan kita bahwa kita bisa memberikan manfaat bagi orang lain.”

Sebagai pelari terakhir, tentunya pria yang biasa dipanggil Nando ini memegang beban tanggung jawab yang lebih, karena ia menjadi penutup dari perjuangan timnya dengan menempuh rute Jakarta Utara. Nando yang sudah mulai berlari sejak Mei 2014 ini mengakui sedang merasa jenuh dengan rutinitas lari yang ia jalankan. “Saya merasa butuh melakukan aksi seperti Run For Charity ini untuk membuat lebih bersemangat, tidak seperti race yang biasanya hanya bertarget medali atau memperbaiki catatan waktu,” aku pria kelahiran Bandung ini.

Pernah menjadi relawan pengajar di Pulau Kelapa, selama menempuh jarak 25 km Nando justru merasa sangat senang dan bersemangat. “Waktu hampir tiga jam yang saya tempuh untuk berlari seperti terasa begitu cepat,” ucap Nando. Padahal, sebelum berlari Nando masih mengikuti rapat kerja kantor di Bandung. Belum lagi, ia mengendarai mobil sendiri menuju lokasi start point di Senayan. Sudah pasti kondisi badannya menjadi kurang fit. “Ketika tekanan darah saya diukur, tensinya mencapai 160/90. Hal ini diperkirakan karena saya kurang tidur selama 3 hari terakhir,” ucap Nando. Untunglah panitia masih mengijinkan Nando berlari dengan berpesan jangan terlalu dipaksakan. “Saya bersyukur masih diberi kesempatan, karena yang ada di benak saya hanyalah tanggung jawab moral kepada para donatur dan anak-anak di kepulauan yang terpilih mengikuti CAP,” tambahnya.

Saat Nando mulai berlari, hujan turun dan semakin deras. Baginya, berlari di bawah kondisi hujan memberi tantangan yang lebih berat, tetapi ia terus menanamkan sugesti pada dirinya sendiri bahwa ia mampu. Perjuangan menempuh 25 km kemudian semakin terasa berat ketika ia mengalami kram di betis kanan tepat di 1 km terakhir. Apalagi, jalanan cenderung sepi dan sudah tak ada marshall yang lewat. “Yang ada di bayangan saya pada saat itu hanyalah segerombol anak-anak CAP yang menunggu di garis finish, dan saya ingin melihat senyum mereka ketika saya sampai di garis itu. Syukurlah, saya bisa menyelesaikannya dengan catatan waktu yang cukup baik,” kenang Nando.

CAP sendiri menurut Nando dapat memberikan kesempatan kepada anak-anak di kepulauan untuk melihat lebih dekat beragam profesi dengan harapan anak-anak akan bersemangat mengejar cita-citanya. Jerih payahnya pun tak sia-sia, karena banyak pihak yang mendukung para KIJP Runner dalam pengumpulan donasi. “Para panitia CAP sangat membantu dalam mempublikasikan materi donasi. Hingga akhirnya dana yang terkumpul bisa melebihi target. Terima kasih,” ujar Nando menutup perbincangan.

 

Hermawan Susilo, 29, Asst. Marketing & Communication Manager

ARTIKEL

“Membuat suatu gerakan positif bisa dimulai dengan hal yang kita bisa. Kumpulkan teman-teman yang punya satu visi dan misi, kemudian jangan ragu untuk merancang kegiatan positifmu.”

 

Relawan yang menjadi pelari ketiga ini adalah salah satu panitia CAP juga, sehingga pria yang akrab dipanggil Mawan ini tahu betul betapa CAP sangat membutuhkan sokongan dana. “Setelah mendaftar di Jakarta Ultra Run, tercetuslah ide fundraising untuk CAP, biar lebih semangat dan ada gregetnya,” jelas Mawan yang memiliki pengalaman berlari sejauh 42 km. Sebelum berlari melewati rute Jakarta Barat, Mawan mengaku sempat tidur seharian sebelum berlari esoknya, konsumsi makanan sehat dan rutin berlatih lari. Selain itu, tak lupa ia meminta doa dan restu dari sang Ibu.

Sebelum mulai berlari, pria yang pernah menjadi relawan pengajar di Pulau Kelapa ini ternyata sempat bertanya-tanya apakah bisa menyelesaikan 25 km hingga finish. Lagi-lagi, ia juga salah satu pelari yang berpikir takut mengecewakan timnya. Tapi demi CAP ia menangguhkan segala keraguan tersebut, meski di tengah berlari banyak rintangan datang. “Selepas kilometer ke-15 saya mulai kelelahan dan mengantuk. Apalagi sekitar pukul 05.00 WIB saya harus menempuh tiga jalur tanjakan dan menerobos hujan,” Mawan bercerita. Mendekati finish, ia juga merasa fisiknya mulai melemah karena kurang tidur.

Pernah berlari full marathon di ajang OSIM Sundown Marathon Singapore 2016, Mawan mengaku merasa muak dengan lari. “Untuk persiapan lari di OSIM, setiap weekend saya harus bangun jam tiga pagi untuk berlari sejauh 25-32km. Kemudian pada saat lari diguyur hujan deras saat itu, saya merasa kapok,” kenangnya. Namun baginya, lari juga sebagai moving meditation yang ampuh untuk mengatasi masalah-masalah dalam hidupnya.

Pria kelahiran Surabaya ini mengaku sempat pesimis bisa mengumpulkan donasi sesuai target. Begitu tahu targetnya tercapai, ia merasa bahagia. Betapa tidak? Ketika menjadi relawan di Pulau Kelapa, ia merasa miris karena anak-anak di pulau tersebut mengetahui Jakarta hanya sebatas Muara Angke. Oleh sebab itulah hatinya tergerak untuk membawa anak-anak kepulauan ke daratan Jakarta melalui CAP. “Mudah-mudahan setelah CAP anak-anak di kepulauan lebih termotivasi dan bisa memotivasi teman-temannya juga untuk belajar dan bekerja keras demi menggapai mimpi dan cita-cita mereka kelak,” ucapnya.

Tanti Saodah Sipahutar, 31, Marketing and Sales Department

ARTIKEL

“Sekecil apapun hal yang bisa kita lakukan jauh lebih berarti dibandingkan hanya diam saja. Semoga apa yang saya lakukan ini bermanfaat bagi anak-anak pulau.”

Menjadi pelari kedua dengan waktu keberangkatan yang berbeda dari Fahri, wanita yang memiliki nama panggilan Tanti ini menyiapkan diri dengan rutin berlari jarak jauh untuk menjaga endurance dan juga menjaga kesehatan tubuh melaui kontrol asupan nutrisi. Ditanya mengapa bersedia mengikuti aksi fundraising untuk CAP, Tanti menjawab, “Saya suka berlari dan kegiatan sosial. Saat ada kesempatan untuk melakukan keduanya secara bersamaan di Run For Charity ini, tentu saja tak akan saya lewatkan.”

Mengaku menikmati setiap kilometer yang dilewati, ternyata event lari kali ini adalah pengalaman pertamanya berlari di tengah malam, tepatnya pukul 23.00 WIB. “Rasanya deg-degan karena akan berlari sendiri tengah malam. Tapi saya memberanikan diri. Setelah kilometer ke-12 di pukul 02.00 WIB alhamdulillah saya bertemu dengan pelari lain, jadi bisa merasa aman kembali,” aku relawan yang pernah menginspirasi di Pulau Kelapa dan Pulau Panggang ini.

Perjuangan wanita yang sebelumnya sudah pernah berlari menempuh jarak 77 km ini ternyata tidak semulus yang diharapkan. Ketika sampai di kilometer 11, ia mulai merasa drop. “Kepala saya pusing dan 5 km mendekati finish rasanya ngantuk berat. Badan dan kaki rasanya susah digerakkan, tetapi saya harus terus lanjut demi janji kepada anak-anak pulau,” kenang wanita kelahiran Jakarta ini. Sesampainya di garis finish, Tanti merasa lega bisa menyelesaikan misinya untuk CAP.

Bagi Tanti, CAP merupakan kegiatan yang sangat baik dan harus didukung penuh. Oleh sebab itulah ia tak ragu untuk berpartisipasi dalam agenda Run For Charity yang digagas bersama teman-temannya. “Alhamdulillah target donasi tercapai, bahkan melebihi target. Terima kasih, para donatur,” ucapnya bahagia.

Fahri Misan Muhammad, 29, Banking Business Development

ARTIKEL

“Apapun langkah kecil kita yang ditujukan untuk kebaikan, Insya Allah ada jalan dan ada hasilnya.”

Pria kelahiran Bogor yang sebelumnya sudah pernah berlari sejauh 71 kilometer ini menjadi pelari kedua dengan menempuh rute jalur selatan, yaitu Senayan-Palmerah-Pondok Indah, kembali lagi ke Senayan. Untuk Run For Charity ini, Fahri berlatih lari sebanyak tiga kali dalam seminggu, core training, long run, menjaga menu dan pola makan, serta tidur minimal delapan jam dalam sehari. Saat diajak berpartisipasi mengumpulkan donasi untuk CAP, ia pun langsung mengiyakan. “Kalau lari saja, manfaatnya hanya untuk diri sendiri. Saya pikir boleh juga kalau dengan berlari bisa bermanfaat bagi orang lain,” ucapnya.

Fahri mengaku titik terendahnya pada saat berlari di Jakarta Ultra Run ada pada  kilometer 18, dimana bekas cedera yang ia miliki tiba-tiba kambuh dan kondisi jalanan sudah sepi. Karena berlari untuk CAP, bayangan anak-anak menjadi penyemangat di tengah kegelapan dan kadar oksigen yang menipis. “Merubah mindset saat lelah untuk terus berlari sangat penuh perjuangan. Tapi malu dong sama anak-anak kalau saya menyerah saat berjuang untuk mereka” ucap Fahri yang pernah menjadi relawan pengajar di Pulau Tidung, Pulau Lancang, Pulau Panggang dan Pulau Pari.

Mengaku mudah lapar, menuju garis finish ia sempat mampir ke area jajanan di pinggir jalan GBK yang dilewatinya. “Ada tahu bulat yang sedang digoreng, langsung saya beli untuk mengganjal perut,” akunya. Selain itu, banyak hal unik yang ia alami, mulai dari membantu wisatawan asing yang tersesat hingga mengarahkan marshall bersepeda yang tidak tahu jalan. Tapi sesampainya di garis finish, ia merasa puas dan bersyukur bisa melewati rute lari dengan keadaan masih sehat.

Terakhir, Fahri berterima kasih kepada teman-teman panitia yang sudah memfasilitasi anak-anak pulau di CAP. “Ini adalah sebuah program yang sangat membantu anak-anak untuk membuka wawasannya. Alhamdulillah target donasi tercapai. Terima kasih para donatur,” ungkapnya.

Christina Nastasha, 28, Praktisi SDM

ARTIKEL

 

“Lakukan apapun yang kita bisa untuk memberikan manfaat bagi kehidupan di sekitar kita. Ini adalah cara saya untuk menunjukkan kecintaan saya terhadap lari, anak-anak dan komunitas.”

Bagi wanita yang akrab dipanggil Sasha ini, KIJP merupakan bagian yang cukup penting dalam perjalanan hidupnya selama dua tahun terakhir. “Begitu banyak hal yang saya dapat. Tak sekedar pengalaman, pertemanan, dan keluarga baru,” ucap Sasha yang mengaku rekor lari terjauhnya ada di jarak half marathon (21.1 km). Oleh sebab itulah ia merasa perlu berbuat sesuatu untuk menutup kebutuhan dana pelaksanaan CAP. Niat tulusnya ditunjukkan lewat partisipasinya di Jakarta Ultra Run dengan berlari melewati rute Senayan-Gatsu-MT Haryono-Cawang-PGC, lalu kembali lagi ke Senayan.

Karena lari kali ini merupakan jarak terjauh bagi Sasha, wanita yang pernah menjadi relawan pengajar KIJP di Pulau Kelapa, Pulau Panggang dan Pulau Harapan ini memiliki persiapan khusus untuk berlaga untuk agenda Run For Charity yang digagas oleh KIJP Runners. “Latihan rutin berlari, sih. Tapi sejujurnya menjelang Jakarta Ultra kemarin sempat minim latihan karena flu berat dan kondisi fisik juga sedang tak baik,” ucapnya yang pada saat itu juga sedang mempersiapkan diri untuk berlari di Bali Marathon dan Jakarta Marathon. “Lelah pasti, tapi semua itu terbayar saat kita tahu alasan kita berlari untuk apa,” tambahnya.

Sebagai pelari pertama yang mulai berlari di pukul 19.00 WIB, Sasha merasa tingkat residu polusi udara di Jakarta masih tinggi, namun pada waktu itu fisiknya masih cukup baik. Sampai di kilometer 10 memasuki area Dewi Sartika-Cawang, Sasha mengalami blisters atau kulit melepuh di telapak kaki kiri, disusul kemudian telapak kaki kanannya juga mengalami hal yang sama di kilometer 13. “Saya harus memperlambat kecepatan agar tetap bisa berlari. Ditambah lagi, stok minuman saya habis, hingga memakan waktu 2,5 jam kemudian baru sampai di garis finish,” kenang Sasha. Sempat tidak yakin bisa sampai finish, Ia merasa perlu bertanggung jawab kepada para donatur. “Yang ada di pikiran saya pada saat itu hanya satu. Jika saya gagal, maka seluruh anggota tim akan gagal. Di situlah saya mendapat kekuatan lebih,” tegas Sasha.

CAP sendiri menurut Sasha merupakan kegiatan yang tidak mudah untuk direalisasikan. Namun, ia salut dengan tekad dan keberanian para relawan KIJP. Disamping itu, ia juga sangat berterima kasih kepada para donatur dan kepada seluruh panitia yang telah bekerja keras mensosialisasikan aksi Run For Charity mereka. “Tuhan memberkati orang-orang yang berpartisipasi dalam donasi ini,” ungkap Sasha menutup wawancara.

KIJP RUN FOR CAMP ANAK PULAU

KIJP RUN FOR CAMP ANAK PULAU

ARTIKEL

PANTANG MAGER DEMI ANAK PULAU

Jarak total 125 km pun rela mereka tempuh. Karena bagi mereka, aksi lebih efektif dari sekedar orasi.

Pada 12-15 Januari 2017 KIJP akan mengadakan Camp Anak Pulau yang membawa serta 17 anak dari 11 pulau di Kepulauan Seribu dan Banten untuk kunjungan studi ke daratan. Tentunya, acara ini membutuhkan sokongan dana yang tidak sedikit.

Melihat kebutuhan Camp Anak Pulau (CAP), para pelari dari relawan KIJP yang menamakan diri mereka KIJP Runners memutuskan untuk membantu pengumpulan dana. Cara mereka cukup unik. Dengan  masing-masing berlari sejauh 25 Km, mereka mencoba untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap program inisiasi dari KIJP yang ditujukan bagi murid-murid berprestasi di Kepulauan Seribu serta Banten.

Hasilnya? Di akhir penutupan masa donasi, KIJP Runners berhasil mengumpulkan dana sebanyak 5.951.621 rupiah. Jumlah ini bahkan melebihi batas target mereka yang berada di nominal 5.000.000 rupiah. Berikut ini adalah profil para pelari kita yang berhati emas:

Pameran Foto dan Video KIJP 2016

Pameran Foto dan Video KIJP 2016

ARTIKEL

Setap keriuhan, setiap kebaikan, dan setiap nyala semangat bisa tersebar dan berlipat ganda dengan sangat cepat. Pun begitu dengan semangat KIJP dalam membangun inspirasi anak Indonesia. Semangat dan kebaikan, terus tumbuh dan menjalar ke penjuru nusantara. Salah punya peran besar dalam tersebarnya semangat tersebut dengan sangat cepat adalah tim dokumentator.

“Apa jadinya sebuah acara tanpa dokumentator?” – Quote salah seorang fotografer

Ya! Memsuki era informasi, media visual memegang peranan penting untuk memastikan pesan tersebut sampai dengan lebih akurat. Foto dan video merupakan media yang efektif untuk mentransfer semangat yang terjadi pada suatu acara, kepada orang yang bahkan sama sekali tidak pernah mendengar mengenai acara tersebut. Mengapresiasi karya fotografer dan videographer yang telah membersamai langkah Komunitas Inspirasi Jelajah Pulau sejak tahun 2014, pada 23—28 Oktober 2016 dilaksanakan Pameran Foto & Video Komunitas Inspirasi Jelajah Pulau bertajuk “Kami Poetra dan Poetri Indonesia”.

Bekerja sama dengan Galeri Indonesia Kaya, serta kurator Rosa Panggabean dan Putra Djohan, KIJP memamerkan 27 karya foto dan beberapa karya video. Pada pembukaan pameran, 23 Oktober 2016 pukul 15.00, turut hadir H. Budi Utomo, SH, MH – Bupati Kepulauan Seribu; Mutiara Asmara – Direktur Komunikasi Djarum Foundation; Maria Helena – Ketua KIJP; Astari Widiastomo – Ketua Pameran Foto & Video KIJP dan para Relawan Pengajar serta Dokumentatror KIJP dari seluruh Indonesia.

Bupati Kepulauan Seribu memberikan testimony positif mengenai kegiatan pameran sekaligus kegiatan KIJP, ” Saya menyambut gembira Pameran Foto & Video KIJP ini, terlebih foto-foto dan video yang yang ditampilkan sangat bagus dan menggugah dengan SD, para siswa/i serta guru yang berada di Kepulauan Seribu. Saya sungguh mengapresiasi semangat Kerelawanan teman KIJP karena teman-teman telah secara Suka & Rela melakukan ini semua tanpa pamrih, mengeluarkan biaya sendiri bagi kemajuan anak-anak. Oleh karena itu, kedepan dengan senang hati saya dan segenap jajarah PemKab Kepulauan Seribu siap membantu dan mendukung penuh kegiatan ini. Semoga semangat Jelajah Pulau yang dimulai dari Kepulaun Seribu ini dapat menular juga ke pulau-pulau lainnya di pelosok Indonesia.”

Pameran Foto dan Video KIJP ini diselenggarakan bukan sekedar selebrasi belaka, namun sebagai gotong royong penggalangan dana untuk rangkaian kegiatan KIJP selanjutnya yaitu Camp Anak Pulau yang rencananya akan mendatangkan 17 anak SD yang berprestasi di pulau beserta guru pendamping mereka untuk melaksanakan kegiatan study tour selama 3 hari di Jakarta.

Inilah beberapa foto keriaan yang telah berlalu dan karya-karya foto dan video yang mengabadikan kisah-kisah KIJP sepanjang tahun 2014 hingga 2016.

Well done rekan-rekan fotografer dan videografer, KIJP, dan semua pihak yang sudah mendukung. Jadi, gak perlu lagi kan kita bertanya, “Apa jadinya acara tanpa dokumentator?” – Rendy Padmanaba

KIJP BATCH 5 SIAP DIGELAR

KIJP BATCH 5 SIAP DIGELAR

ARTIKEL

Komunitas Inspirasi Jelajah Pulau (KIJP) siap menghelat lagi wahana inspirasi profesi untuk siswa sekolah dasar di kepulauan Indonesia. Setelah empat batch sebelumnya bergerak di Kepulauan Seribu – DKI Jakarta, kini KIJP Batch 5 merambah Pulau Tunda dan Pulau Panjang di Banten.Total akan ada 8 pulau dan 11 Sekolah Dasar yang akan didatangi untuk edukasi profesi sekaligus inisiasi kegiatan sekolah, masyarakat, dan lingkungan. Kick Off Meeting yang dilaksanakan, Minggu (14/2) menyepakati bahwa value utama yang akan…