“Membuat suatu gerakan positif bisa dimulai dengan hal yang kita bisa. Kumpulkan teman-teman yang punya satu visi dan misi, kemudian jangan ragu untuk merancang kegiatan positifmu.”

 

Relawan yang menjadi pelari ketiga ini adalah salah satu panitia CAP juga, sehingga pria yang akrab dipanggil Mawan ini tahu betul betapa CAP sangat membutuhkan sokongan dana. “Setelah mendaftar di Jakarta Ultra Run, tercetuslah ide fundraising untuk CAP, biar lebih semangat dan ada gregetnya,” jelas Mawan yang memiliki pengalaman berlari sejauh 42 km. Sebelum berlari melewati rute Jakarta Barat, Mawan mengaku sempat tidur seharian sebelum berlari esoknya, konsumsi makanan sehat dan rutin berlatih lari. Selain itu, tak lupa ia meminta doa dan restu dari sang Ibu.

Sebelum mulai berlari, pria yang pernah menjadi relawan pengajar di Pulau Kelapa ini ternyata sempat bertanya-tanya apakah bisa menyelesaikan 25 km hingga finish. Lagi-lagi, ia juga salah satu pelari yang berpikir takut mengecewakan timnya. Tapi demi CAP ia menangguhkan segala keraguan tersebut, meski di tengah berlari banyak rintangan datang. “Selepas kilometer ke-15 saya mulai kelelahan dan mengantuk. Apalagi sekitar pukul 05.00 WIB saya harus menempuh tiga jalur tanjakan dan menerobos hujan,” Mawan bercerita. Mendekati finish, ia juga merasa fisiknya mulai melemah karena kurang tidur.

Pernah berlari full marathon di ajang OSIM Sundown Marathon Singapore 2016, Mawan mengaku merasa muak dengan lari. “Untuk persiapan lari di OSIM, setiap weekend saya harus bangun jam tiga pagi untuk berlari sejauh 25-32km. Kemudian pada saat lari diguyur hujan deras saat itu, saya merasa kapok,” kenangnya. Namun baginya, lari juga sebagai moving meditation yang ampuh untuk mengatasi masalah-masalah dalam hidupnya.

Pria kelahiran Surabaya ini mengaku sempat pesimis bisa mengumpulkan donasi sesuai target. Begitu tahu targetnya tercapai, ia merasa bahagia. Betapa tidak? Ketika menjadi relawan di Pulau Kelapa, ia merasa miris karena anak-anak di pulau tersebut mengetahui Jakarta hanya sebatas Muara Angke. Oleh sebab itulah hatinya tergerak untuk membawa anak-anak kepulauan ke daratan Jakarta melalui CAP. “Mudah-mudahan setelah CAP anak-anak di kepulauan lebih termotivasi dan bisa memotivasi teman-temannya juga untuk belajar dan bekerja keras demi menggapai mimpi dan cita-cita mereka kelak,” ucapnya.